Tujuan hidup kita bukanlah untuk menjadi berbahagia. Tujuan hidup kita adalah untuk menjadi sebab bagi kebahagiaan, bagi diri sendiri dan bagi sebanyak mungkin orang lain. -Mario Teguh-
Melirik sejenak quote diatas saya jadi teringat teman terbaik saya, sesosok remaja yang beranjak dewasa dengan rasa tanggung jawab tinggi dan keinginan yang sangat besar untuk memikul beban yang selama ini ada dalam kehidupannya...lebih tepatnya keluarganya hmmm... best child deh teman saya yang satu ini. Meskipun semua anak selalu punya keingian seperti teman saya yang satu ini, tapi saya rasa ada SESUATU yang membedakan dia dengan remaja-remaja seusianya. Tapi sayangnya sampai saat ini saya gak tau apa yang membuatnya berbeda...ah, enggak penting deh yang pasti dari dia-lah saya belajar memperjuangkan hidup.
Sehari-harinya ia tinggal besama orangtua dan seorang adik lelakinya, tempat tinggalnya bukan ditempat mewah yang bergelimangan harta hanya di deretan rumah petak sewaan yang hanya cukup untuk sekedar melepas lelah sang ayah dan ibunya. Tapi dari rumah petak inilah ia mampu eksplorasi diri, membuka titik terang kehidupan pribadinya... Pendidikannya, dibesarkan di keluarga sederhana menuntunnya menjadi pribadi yang sederhana, namun tak menyederhanakan pola pikir untuk urusan pendidikannya. Baginya prestasilah yang akan membuatnya bangga. Keuangan, yeahh... hal vital bagi semua orang hidup dan termasuk teman terbaik saya ini. Keadaan keluarganya memaksanya untuk mengorbankan atau bisa dibilang menghabiskan waktunya untuk bekerja meski masih menjabat sebagai siswa. Dan karena hal inilah semua pekerjaan ia lakoni, asal akan menghasilkan uang yang dapat ia persembahkan untuk ayah-ibu tercinta. ahhh...terharu *two thumbs for you* Persahabatan, kisah persahabatan itu tidak hanya ada di cerita-cerita khayalan saja, baginya selalu ada mereka yang dengan setia mau mendengarkan keluh kesahnya, mau berbagi kebahagiaaan dengannya, mau mengarungi cobaan kehidupan bersamanya meski tak jarang tidak seiya-sekata. Percintaan, ia berpendapat bahwa cinta tidak akan datang pada dirinya, orang yang selalu susah payah dalam hidupnya. Maka ia tak pernah menganggap ini hal penting, punya atau gak punya pacar itu gak masalah buatnya. Kehidupan pribadinya yang sangat berbeda dengan remaja kebanyakan itulah yang menarik bagi saya, limited edition..."Buat apa kalau pinter keblinger" itu kata-kata yang pernah keluar dari mulutnya, yang selalu saya ingat meskipun saya gak pinter (jadi gak mungkin keblinger... hahahha *ngomong apa sih*) dia bilang buat apa jadi mahasiswa kalau cuma pinter ilmu eksak tapi gak pinter ilmu kehidupan. Iyah memang sejak pertama saya mengenalnya ia selalu mengambil setiap tawaran pekerjaan yang datang padanya meski itu beresiko, itu demi kehidupan keluarganya. Ia punya tekad besar untuk memenuhi apa yang dibutuhkan keluarganya sehingga semua masalah yang dimiliki ayahnya, ibunya, adiknya ingin ia selesaikan. Pernah satu waktu saya bertanya padanya "kenapa kamu mau mengambil tawaran itu, apa yang ada dipikiranmu saat itu?" dan jwabannya cukup menggugah nurani saya sebagai seorang anak "hutang ibuku" dan kala itu hati saya serasa menjerit sejadi-jadinya hingga tak mampu berkata-kata lagi. Sempat saya berpikir jika saya ada diposisinya saat ini, apakah saya akan melakukan hal yang sama sepertinya, sesempurna perjalanannya?
Tujuan hidupnya bukan berbahagia, bukan untuk membahagiakan dirinya sendiri, tapi keluarganya... Saya yakin nyawapun akan ia berikan untuk kebahagiaan ayah-ibu tercintanya...




0 komentar:
Posting Komentar